Senin, 03 Juni 2013

PERJALANAN NERVUS II ( OPTIKUS)




Retina merupakan reseptor dari impuls penglihatan. Retina mewakili perluasan ke depan dari otak dan secara penting terdiri dari tiga lapisan neuron.
Neuron pertama disebut batang dan kerucut. Jika cahaya memasuki mata, reaksi fookimiawi pada unsur–unsur ini menghasilkan impuls yang dikirim ke korteks penglihatan (area Broadman17). Dianggap batang bereaksi terhadap terang dan melayani penglihatan pada waktu gelap dan kerucut sensitif terhadap warna dan melayani penglihatan pada saat terang.
Pada fovea sentralis dari makula, sel batang dan kerucut bercampur, batang jumlahnya sepuluh kali lebih banyak daripada kerucut. Pada daerah fovea yang mengalami ketajaman penglihatan tertinggi, hanya ada sel–sel kerucut, dan setiap kerucut berhubungan dengan hanya satu sel bipolar yang mewakili neuron kedua. Sel–sel bipolar mengirim impuls ke neuron ketiga, yaitu sel ganglion dari lapisan ganglion dalam retina. Sekitar satu juta akson dari sel-sel ganglion ini berjalan pada lapisan serat retina ke papilla atau kaput saraf optikus, melewati lamina kribrosa dari sklera mata dan akhirnya mencapai korpus genikulatum lateral dari thalamus.
Traktus serat yang berjalan naik dari mata ke kiasma  disebut saraf optikus (fasikuli optisi). Setelah saraf tiba pada kiasma, separuh dari seratnya yang berasal dari separuh sisi nasal retina menyebrang melalui kiasma ke sisi yang berlawanan. Separuh lainnya yang berasal dari separuh sisi temporal retina terus berjalan ipsilateral. Dibelakang kiasma semua bergabung dengan serat yang menyebrang dari mata kontralateral dan membentuk traktus optikus. Setiap traktus berakhir pada korpus genikulata lateralnya.
Serat makula untuk penglihatan sentral, memasuki kaput saraf temporalis. Serat segera mencapai posisi sentral dalam bagian orbital dari saraf. Atrofi berkas serat makula, menyebabkan kepucatan yang khas dari bagian temporal kaput saraf yang mungkin berhubungan dengan kerusakan penglihatan sentral, penglihatan perifer tetap utuh. Jika serat perifer dari saraf optikus mengalami kerusakan (cedera saraf periaksial), ketajaman penglihatan tetap utuh, tetapi penglihatan perifer menyempit. Kerusakan seluruh saraf yang membawa ke atrofi, diikuti oleh kepucatan seluruh papilla. Dikatakan atrofi optik primer jika saraf mengalami kerusakan secara langsung, misalnya akibat tekanan saraf oleh tumor. Atrofi seperti itu dan skotoma sentralis pada sisi tumor dan papilaedema pada sisi yang lain, dikenal sebagai sindroma foster kennedy. Atrofi optik sekunder terjadi mengikuti papilaedema.
Jika tidak ada penyakit intraokular kerusakan penglihatan pada satu mata selalu menandakan lesi pada bagian orbita, foramen, atau kranial dari saraf optikus.
Jika pusat kiasma mengalami kerusakan, sehingga serat yang menyebrang menjadi terganggu  (oleh tumor hipofise, kraniofaringioma, meningioma tuberkulum sela) hasilnya adalah hemianopia bitemporal. Biasanya serat yang datang dari separuh bawah retina dan mengisi bagian ventral kiasma adalah yang pertama-tama rusak; yang menjelaskan mengapa hemianopia dimulai pada kuadran atas atau bitemporal dari lapangan pandang. Hal tersebut pertama-tama melibatkan penglihatan warna. Pada kasus yang jarang, hemianopia heteronimus mungkin binasal. Penemuan seperti itu menunjukan bahwa bagian lateral dari saraf optikus intrakranial, kiasma atau traktus postkiasmatik mengalami kerusakan (oleh arteri abnormal, tumor, meningitis basalis).


Berlawanan dengan heteronimitas dari lesi kiasma, lesi yang mencederai traktus optikus menghasilkan hemianopia homonimus. Sebagai contoh lesi pada traktus optikus kanan mengganggu impuls yang berasal dari separuh kanan kedua retina. Akibatnya kerusakan penglihatan melibatkan kedua separuh kiri dari lapangan pandang.
Sesaat sebelum traktus optikus mencapai genikulatum lateral, sejumlah kecil serat yaitu berkas pupilosensorik medialis, berlanjut ke kolikuli superior dan nucleus pada pretektal. Berkas ini adalah serat aferen untuk beberapa refleks optik, terutama yang penting refleks pupil terhadap cahaya. Jika gangguan terhadap trektus optikus melibatkan serat-serat ini, cahaya yang jatuh pada separuh homonim retina yang terlibat, tidak menghasilkan reaksi pupil.
Massa serat traktus optikus memasuki korpus genikulatum lateral melalui penggabungan dengan lapisan tipis substansia alba yang memisahkan neuron menjadi enam, sebagian adalah lapisan yang saling berhubungan. Lapisan pertama berjalan sejajar dengan basis dari korpus. Lapisan 2,3 dan 5 menerima serat yang tidak menyeberang dari mata ipsilateral, dan lapisan 1,4 dan 6 menerima serat yang menyebrang dari mata kontralateral. Akson dari neuron-neuron membentuk radiasio optika (radiasio Gratiolet).
Radiasio berproyeksi ke dalam korteks penglihatan atau korteks kalkarina, yang meluas dengan bibir atas dan bibir bawah sepanjang fisura kalkarina (area Brodman 17). Korteks dari area ini ditandai dengan jelas oleh strip Gennari, lapisan serat horizontal bermielin yang lebih tebal dari biasanya, terbagi menjadi empat lapisan dari sel saraf kecil. Serat-serat radiasio optikum sangat berdekatan hanya pada waktu muncul dari korpus genikulatum lateral. Setelah melewati yang disebut ismus lobus temporalis, serat-serat menyebar dalam substansia alba lobus temporalis dekat dinding lateral kornu posterior dan inferior dari ventrikel lateral.
Urutan retinotopik dari sel-sel dalam korpus genikulatum lateral juga dipertahankan pada akson-aksonnya dan pada titik akhir akson pada korteks kalkarina. Serat-serat tersebut mewakili separuh homonim dari akson kedua mata yang membentuk inti sentral dari radiasio. Serat ini melanjutkan perjalanan yang sangat lurus ke separuh kaudal dari korteks penglihatan pada sisi medial lobus oksipitalis dan pada bagian cembung dari kutubnya. Kuadran dorsalis dari macula dan separuh retina perifer, berproyeksi ke dalam bibir atas (dorsal), dan kuadran ventralnya kedalam bibir bawah (ventral) dari korteks penglihatan.
Beberapa serat ventral dari radiasio, pertama-tama berjalan ke rostral ke arah kutub temporal. Kemudian setiap serat membentuk Loop Meyer yang paling rostral dapat mencapai tingkat ujung kornu ventrikularis inferior. Serat yang melingkar mewakili kuadran bawah dari bagian perifer separuh homonim dari retina.
Gangguan pada serat radiasio optika juga menyebabkan cacat hemianopik homonim kontralateral dari lesi. Hemianopik dapat lengkap, tetapi seringkali tidak lengkap karena serat-serat tersebar luas. Hemianopia homonim yang terbatas pada dua kuadran atas dan berakhir secara tajam pada garis tengah vertical (cacay ‘pie-in-the-sky’) selalu menunjukan lesi lobus temporalis yang melibatkan Loop Meyer.
Area Brodman 17, resepien primer dari impuls penglihatan, dikelilingi oleh area 18 dan 19, yang meluas dari sisi medial lobus oksipitalis diatas kecembungannya. Kedua area kortikal ini mewakili lapangan penglihatan sekunder dan tersier atau area asosiasi untuk jejak penglihatan (lapangan memori optikal). Stimulasi elektris pada area 18 dan 19 menghasilkan aura optikal dalam bentuk kilatan cahaya, warna dan bentuk-bentuk serta garis-garis sederhana. Impresi penglihatan tiba pada area 17 mungkin karena pengalaman dan interpretasi sebelumnya.

Hancurnya area 18 dan 19 mengurangi kemampuan untuk mengenal obyek melalui bentuk, ukuran dan kerangka dari benda itu, serta kesadaran akan adanya benda itu (agnosia optikal, aleksi). Gangguan tersebut terutama terbukti jika serat komisural dari splenium korpus kalosum yang menghubungkan kedua area penglihatan mengalami gangguan.























DAFTAR PUSTAKA

1.    Duus Peter. “Diagnosis Topik Neurologi”; Sistem Optik (II). Hal. 85 – 90
2.    Mardjono Mahar, Sidharta Priguna. “Neurologi Klinis Dasar”; Nervus Optikus. Hal. 116 – 26  























PENYEMBUHAN LUKA



( Wound Healing )


Definisi luka
          Luka adalah suatu diskontinuitas jaringan.


Tipe Penyembuhan Luka
1.   Primary Healing
·   Terjadi jika luka ditutup dalam beberapa jam setelah trauma
·   Ditutup menggunakan jahitan atau cara lain

2.   Delayed Primary Healing
·   Luka yang terkontaminasi dibiarkan terbuka untuk mencegah infeksi.
·   Penutupan dilakukan setelah mekanisme pertahanan tubuh berjalan.
·   Setelah 3-4 hari, fagositosis dan angiogenesis terjadi.
·   Sel-sel inflamasi muncul untuk membunuh bakteri.

3.   Secondary Healing
·   Luka dibiarkan menutup sendiri oleh proses kontraksi dan epitelialisasi.
·   Myofibroblast berperan dalam proses kontraksi.

4.   Partial Thickness Healing
·5  Merupakan luka yang hanya melibatkan lapisan ephitel dan dermis superfisial.
·6  Proses penyembuhan hanya epithelialisasi tanpa adanya kontraksi.

Proses penyembuhan luka sebagai usaha tubuh memperbaiki jaringan yang rusak dapat dibagi menjadi 2 tipe:
1.   Penyembuhan luka yang bersifat spesifik, dimana hasil akhir berupa jaringan yang secara biologis dan histologis sama dengan jaringan yang rusak sehingga dapat berfungsi persis seperti semula. Hal ini dikenal dengan nama regenerasi.

2.   Penyembuhan luka yang bersifat tidak spesifik, dimana hasil akhir berupa jaringan yang secara biologis dan histologis tidak sama dengan jaringan yang rusak, sehingga tidak dapat diharapkan fungsi jaringan tersebut. Jaringan ini disebut jaringan parut atau sikatriks.


Proses Penyembuhan Luka

          Proses penyembuhan luka pada umumnya terdiri dari 3 fase, yang secara biologis sebenarnya batasannya tak terlalu jelas, yaitu:
1.   Fase Inflamasi, berlangsung sejak terjadinya luka sampai kira-kira hari kelima.
2.   Fase Proliferasi (Fibroplasia), berlangsung dari akhir fase proliferasi sampai kira-kira akhir minggu ketiga.
3.   Fase Remodeling, dapat berlangsung berbulan-bulan sampai bertahun-tahun dan dinyatakan berakhir kalau semua tanda radang sudah lenyap.


Fase Inflamasi
Bertujuan menghilangkan mikroorganisme yang masuk dalam luka, benda-benda asing ataupun jaringan mati.

Terdiri dari 3 komponen, yaitu :
1.   Komponen vaskuler
·2  Segera setelah terjadi luka terjadi vasokonstriksi transisional pada pembuluh darah selama 5 - 10 menit. Sesudah itu terjadi vasodilatasi, penambahan aliran darah, peningkatan permeabilitas vena.
·3  Plasma yang mengandung elektrolit dan molekul-molekul besar keluar dari vaskuler dan masuk ke rongga luka ð Oedem
·4  Perubahan-perubahan ini terjadi atas pengaruh substansi yang dilepaskan di daerah luka yaitu histamin, dan serotonin.

2.   Komponen hemostatika
·3  Bersamaan dengan vasokonstriksi terjadi juga pengerutan ujung pembuluh darah yang putus (retraksi) dan lumennya tertutup.
·4  Terbentuk fibrin yang berisi trombosit, eritrosit dan leukosit.
·5  Hemostasis terjadi karena trombosit yang keluar dari pembuluh darah saling melengket, dan bersama dengan jala fibrin yang terbentuk membekukan darah yang keluar dari pembuluh darah dan pembuluh limfe.
·6  Obstruksi pembuluh limfe mencegah penyebaran cairan dari daerah luka, sehingga reaksi inflamasi terlokalisir.
·7  Pada infeksi streptokokus terjadi fibrinolisis sehingga infeksi dan reaksi inflamasi cepat meluas ke bagian tubuh lain.
8.   Komponen seluler
·9  Respon seluler terjadi mulai 12 - 16 jam sesudah leukosit meninggalkan pembuluh darah.
·10 Leukosit meninggalkan pembuluh darah dengan jalan diapedesis, bergerak aktif ke daerah luka karena daya kemotaktif.
·11 Leukosit menghasilkan enzim hidrolitik yang membantu mencerna bakteri dan kotoran luka.
·12 Pada awal proses, PMN > MN, tetapi karena umur PMN lebih pendek, maka pada akhir fase inflamasi MN lebih banyak.
·13 Jika PMN mati, enzim-enzim intrasel dan debrisnya dilepaskan ke dalam luka menjadi eksudat atau pus.

Fase inflamasi ini disebut juga fase lambat, karena reaksi pembentukan kolagen masih sedikit dan luka hanya dipertautkan oleh fibrin yang amat lemah.






Fase Proliferasi (Fibroplasia)
Terdiri dari 3 komponen pula, yaitu :
1.      Komponen epitelisasi
·1  Terjadi migrasi dan proliferasi sel-sel epitel yang berasal dari tepi luka serta appendices kulit yang terkena trauma, bermigrasi ke jurusan luka, berproliferasi secara mitosis dan berdiferensiasi menjadi sel-sel epitel dewasa.
·2  Proses ini berlangsung dalam 24-48 jam setelah perlukaan.
·3  Sel-sel itu bermigrasi membentuk diri sebagai lapisan tipis dan melekat pada substrat yang ada pada luka, lalu bermigrasi di atas substrat itu dengan arah ke pusat luka.
·4  Migrasi terjadi dengan kontak langsung dan berhenti jika terjadi kontak langsung dengan epitel lain sejenis, kemudian arah gerakannya berubah ke arah lain selama masih ada daerah luka yang belum tertutup sel epitel, hingga bersentuhan lagi dengan sel epitel lain, dan seterusnya.
·5  Bersamaan dengan migrasi sel-sel luka, sel-sel basal yang tidak terlepas dari membrana basalis, demikian juga dengan sel-sel epitel dari appendices kulit yang terluka mulai bermitosis dan menggantikan sel-sel yang bermigrasi tadi. Kalau seluruh permukaan luka sudah tertutup epitel, sel-sel yang bermigrasi tadi mulai bermitosis sendiri dan mempertebal lapisal epitelial.
2.      Komponen Kontraksi Luka
·1  Tujuan utama adalah penutupan luka atau memperkecil permukaan luka. Proses terjadinya kontrasi luka ini berhubungan erat dengan proses fibroplastik.
·2  Pada tepi luka, fibroblas yang berasal dari sel mesenkim yang belum berdiferensiasi, menghasilkan mukopolisakarida, asam aminoglisin, dan prolin. Bahan-bahan tadi membentuk serat kolagen yang akan mempertautkan tepi luka.
·3  Pada fase ini kolagen serat dibentuk dan secara periodik diserap. Dengan cara ini kulit dan jaringan di bawah kulit ditarik ke arah pusat luka. Sifat ini, bersama sifat kontraktil miofibroblas, menyebabkan tarikan pada tepi luka. Pada akhir fase ini kekuatan regangan luka mencapai 25% jaringan normal.
·4  Kontraksi luka dipercepat prosesnya dengan perawatan luka secara terbuka, dan akan dihambat oleh setiap jenis pembalut. Demikian pula skin grafting menghambat kontraksi luka, bahkan full thickness graft menghentikan sama sekali. Kortison juga menghentikan proses kontraksi luka.
3.      Reparasi Jaringan Ikat
·1  Pada fase ini biasanya defek jaringan pada permukaan sudah ditutupi oleh sel-sel epitel, sedang pada bagian yang lebih dalam fibroblast mulai bermigrasi ke dalam luka untuk mengawali sintesis jaringan parut, kolagen primer, polisakarida dan protein.
·2  Luka dipenuhi oleh sel radang, fibroblast, dan kolagen membentuk jaringan berwarna kemerahan dengan permukaan yang berbenjol halus yang disebut jaringan granulasi, yang ditandai oleh meningkatnya vaskularisasi di daerah ini karena dimulainya angiogenesis (pembentukan kapiler-kapiler darah).

FASE REMODELING
·1  Fase ini dimulai pada hari ke-21, sesudah jaringan parut selesai dibentuk.
·2  Pada fase ini terjadi proses pematangan yang terdiri dari penyerapan jaringan yang berlebih, pengerutan sesuai dengan gaya gravitasi, dan akhirnya perupaan kembali jaringan yang baru terbentuk.
·3  Tubuh berusaha menormalkan kembali semua proses abnormal karena proses penyembuhan. Oedem dan sel radang diserap, sel muda menjadi matang, kolagen yang berlebih diserap dan sisanya mengerut sesuai dengan regangan yang ada.
·4  Selama proses ini dihasilkan jaringan parut yang pucat, tipis, lemas serta mudah digerakkan dari dasar.
·5  Pada akhir fase ini, perupaan luka kulit mampu menahan regangan kira-kira 80% kemampuan kulit normal.
·6  Makin sedikit jaringan parut yang terbentuk, makin cepat jaringan tersebut mendekati kekuatannya semula.
·7  Proses remodeling ini terjadi proses spontan dan berlangsung berbulan-bulan bahkan sampai bertahun-tahun.











Rabu, 29 Mei 2013

LUKA BAKAR



BAB I

      Pendahuluan

 

Trauma termis adalah kerusakan kulit (dapat disertai kerusakan jaringan dibawahnya) yang disebabkan oleh perubahan suhu. Trauma termis dapat berupa luka bakar (combustio), karena bahan kimia (cedera kimia), karena aliran listrik (electric trauma), karena dingin (sengatan dingin dan frostnip).

Luka bakar merupakan trauma yang cukup sering ditemui. Jenis yang berat memperlihatkan morbiditas dan derajat cacat yang relatif tinggi dibandingkan dengan cedera oleh sebab lain. Karena morbiditas dan mortalitas yang cukup tinggi sehingga memerlukan penanganan yang intensif  dari awal sampai dengan fase lanjut.

Luka bakar  adalah luka yang terdapat adanya nekrosis koagulatif dari jaringan. Sehingga jika dilihat definisi  dari luka bakar maka trauma dingin dapat juga dimasukkan menjadi bagian dalam luka bakar.

Prognosis dan penanganan luka bakar terutama tergantung pada dalam dan luasnya luka bakar, dan penanganan sejak awal hingga penyembuhan. Selain itu faktor letak daeerah yang terbakar, usia, dan keadaan kesehatan penderita juga turut menentukan kecepatan penyembuhan. Luka bakar pada daerah peiineum, ketiakk, leher, dan tangan sulit dalam perawatannya, antara lain karena mudah mengalami kontraktur.

Dengan memperhatikan prisip-prinsip dasar resusitasi trauma pada umumnya dan penerapannya pada saat yang tepat diharapkan akan dapat menurunkan sekecil mungkin angka morbiditas dan mortalitas yang terjadi. Prisip-prinsip dasar tersebut meliputi kewaspadaan akan terjadinya gangguan jalan nafas pada penderita yang mengalami trauma inhalasi, mempertahankan hemodinamik dalam batas normal dengan resusitasi cairan, mengetahui dan mengobati penyulit-penyulit yang mungkin terjadi akibat trauma. Tetapi prinsip utama penanganan trauma termal ini adalah menendalikan suhu tubuh  dan menjauhkan atau mengeluarkan penderita dari lingkungan  penyebab trauma panas.
 

BAB II

Pembahasan

Anatomi dan fisiologi kulit

Kult adalah organ tubuh yang terletak paling luar dan membatasinya dari lingkungan hidup manusia. Luas kulit orang dewasa 1,5 m² dengan berat kira-kira 15 % berat badan. Kulit merupakan organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis, dan sensitif, bervariasi dalam keadaan iklim, umur, sex, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuh.

Anatomi kulit secara histopatalogik

Pembagian kulit secara garis besar tersusun atas tiga lapisan utama, yaitu :

1.       Lapisan  epidermis atau kutikel, terdiri atas : stratum korneum, stratum lucidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale.

2.       Lapisan dermis (korium, kutis vera, true skin) berisi :

a.        pars papilare : berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah

b.       pars retikulare : berisi serabut-serabut penunjang misalnya serabut kolagen, elastin dan retikulin. (kelenjar kulit)

3.      Lapisan subkutis terdiri atas : jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak, ujung-ujung saraf tepi, pembuluh darah dan getah bening. 



 

Tidak ada garis tegas yang memisahkan dermis dan subkutis, subkutis ditandai dengan adanya jaringan longgar dan adanya sel dan jaringan lemak.

 


Definisi

      Luka bakar suhu pada tubuh terjadi baik karena konduksi panas langsung atau radiasi elektromagnetik. Derajat luka bakar berhubungan  dengan beberapa faktor, termasuk konduksi jaringan yang terkena, waktu kontak dengan sumber tenaga panas dan pigmentasi permukaan. Saraf dan pembuluh darah merupakan struktur yang kurang tahan terhadap konduksi panas. Sedangkan tulang merupakan jaringan yamg paling tahan.

      Sel-sel dapat menahan temperatur sampai 44º C tanpa kerusakan bermakna. Antara 44º dan 51º C,kecepatan kerusakan jaringan berlipat ganda untuk tiap derajat kenaikan temperatur dan waktu penyinaran yang terbatas yang dapat ditoleransi. Di atas 51º C, protein terdenaturasi dan kecepatan kerusakan jaringan sangat hebat. Temperatur diatsa 70º C menyebabkan kerusakan seluler yang sangat singkat yang dapat ditahan. Pada rentang panas yang lebih rendah, tubuh dapat mengeluarkan tenaga panas dengan perubahan sirkulasi; tetapio pada rentang panas lebih tinggi, hal ini tidak efektif.

      Luka bakar terbentuk dari beberapa zona, dimulai dengan daerah koagulasi jaringan pada titik kerusakan meksimal. Mengelilingi daerah koagulasi terdapat daerah stasis yang ditandai dengan aliran darah yang cepat dan terdiri dari sel-sel yang masih dapat diselamatkan. Di sekeliling daerah stasis terletak daerah hiperemia, tempat sel kurang rusak dan dapat sembuh sempurna. Dengan pengeringan atau infeksi, sel pada daerah statis dapat hilang dan luka dengan kedalaman tidak penuh diubah menjadi kedalaman penuh. Salah satu tujuan perawatan luka bakar adalah menghindari hilangnya kedua daerah luar ini.

 

Diagnosis  luka bakar dapat ditegakkan berdasarkan :

  1. kedalaman
  2. luas
  3. penyebab
  4. lokasi

 

 

     

Menurut kedalamannya luka bakar dibagi atas 3 derajat :

 

*      Derajat 1

§   Luka bakar hanya mengenai epidermis

§   Sifat luka bakar : eritema, kerusakan jaringan dan edema minimum.

§   Ditandai dengan kemerahan dan setelah 24 jam timbul gelembung yang kemudian kulit mengelupas.

§   Kulit sembuh tanpa cacat.

 

*       Derajat 2

§   luka bakar mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang tersisa, seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan folikel rambut.

§   Ditandai dengan adanya vesikula / bulla disertai pembengkakan disekitarnya.

§   Sembuh dalam waktu 5-7 hari.

§   Dalam fase penyembuhan akan tampak daerah bintik-bintik biru dari sebasea  dan akar rambut. Dibagi menjadi 2 :

1.     Superficial :

v  mengenai epidermis dan lapisan atas dari korium.

v Akan sembuh dalam 2 minggu

v Sering disebabkan air panas, atu flash burn akibat ledakan.

v Gejala dan tanda : kemerahan/bertitik, blister, bengkak, nyeri sensitif terhadap udara.

v Sembuh tanpa terbentuknya sikatriks.

2.     Dalam :

v sisa-sisa epitelial tinggal sedikit

v penyembuhan melalui jaringan granulasi tipis, dan akan ditutup oleh epitel yang berasal dari dasar luka selain dari tepi luka.

v Kerusakan seluruh lapisan kulit, ujung saraf dan subkutan.

v Disebabkan api, kontak lama dengan cairan panas, kontak dengan benda panas, listrik.

v Gejala dan tanda : pucat, keputihan, seperti perkamen, kulit terbuka tampak lemak, permukaan kering, tidak nyeri sensorik hilang, edema.

v Penyembuhan lebih lama 3-4 minggu.

 

*      Derajat 3

§   Luka bakar mengenai seluruh tebalnya kulit atau mengenai juga lapisan dibawah kulit seperti subkutan, otot dan tulang.

§   Tampak epitel terkelupas, dan daerah putih karena koagulasi protein dermis. Dermis yang terbakar kemudian mengering dan menciut disebut eskar. Bila eskar melingkar akan menekan arteri, vena dan saraf perifer sehingga pada awalnya akan muncul gejala kesemutan.

Setelah minggu ke dua eskar mulai lepas karen alesi berbatasan dengan jaringan sehat kemudian tampak jaringan granulasi dan memerlukan penutupan dengan jaringan parut yang menebal dan menyempit, keadaan seperti ini disebut dengan kontraktur.

 

 

Perbedaan
Derajat 2
Derajat 3
Penyebab
Suhu dan lama kontak sedang
Suhu dan lama kontak lama
Bila epitel lepas, warna kulit
Merah
Putih pucat
Rasa sakit
+
-
Penyerapan warna
+
-
Penyembuhan
-          Superficial : 2-3 minggu
-          Dalam : 3-4 minggu
Melalui jaringan granulasi.

 

Pembagian menurut luas luka bakar :

 

Dewasa ("rule of nine") Wallace :

Kepala dan leher                                     :    9 %

Dada dan perut                                       :  18 %

Punggung hingga bokong                       :  18 %

Anggota gerak atas masing-masing         :    9 %

Anggota gerak bawah masing-masing    :  18 %

Perineum dan genitalia eksterna :    1 %

 

 

Anak (rumus 10-15-20) Lund and Browder

Kepala dan leher                                     :   15 %

Ektremitas atas kanan dan kiri                :  2 x 10 %

Badan depan dan belakang                     :  2 x 20 %

Ektremitas bawah kanan dan kiri            :  2 x 15 %

 

 

Bayi (rumus 10)

Kepala dan leher                                     :  20 %

Ektremitas atas kanan dan kiri                :  2 x 10 %

Badan depan dan belakang                     :  2 x 20 %

Ektremitas bawah kanan dan kiri            :  2 x 10 %

 

Cara perhitungan yang lain : seluas telapak tangan penderita = 1 %

 

 

Klasifikasi Luka Bakar :

 

    1. Berat atau kritis, bila :

v  Derajat 2 dengan luas lebih dari 25 %

v  Derajat 3 dengan luas lebih dari 10 %, atu terdapat di muka, kaki, dan tangan.

v  Luka bakar disertai trauma jalan nafas atau jaringan lunak luas, atau fraktur

v  Luka bakar akibat listrik.

 

    1. Sedang, bila :

v  Derajat 2 dengan luas 15-25 %

v  Derajat 3 dengan luas kurang dari 10 %, kecuali muka, kaki, tangan, mata, dan telinga.

                 

    1. Ringan, bila :

v  Derajat 2 dengan luas kurang dari 15 %

v  Derajat 3 kurang dari 2 %

 

 

 

Indikasi rawat inap

 

*      Penderita syok atau terancam syok bila luas luka bakar > 10% pada anak atau > 15% pada orang dewasa.

*      Terancam edema laring akibat terhirupnya asap atau udara hangat.

*      Letak luka memungkinkan penderita terancam cacat berat, seperti pada wajah, mata, tangan, kaki, atau perineum.

 

 

Patofisiologi

 

Akibat pertama dari luka bakar adalah syok karena kaget dan kesakitan. Pembuluh kapiler yang terpajan suhu tinggi rusak dan permeabilitas meninggi. Sel darah yang ada didalamnya ikut rusak sehingga dapat terjadi anemia. Meningkatnya permeabilitas menyebabkan udem dan menimbulkan bulla dengan membawa serta elektrolit. Hal ini menyebabkan berkurangnya cairan intravaskuler. Kerusakan kulit akibat luka bakar menyebabkan kehilangan cairan tambahan karena penguapan yang berlebihan, cairan masuk ke bulla yang terbentuk pada luka bakar derajat 2, dan pengeluaran cairan dari keropeng luka bakar derajat 3. dapat menimbulkan asidosis, nekrosis tubular akut, dan disfungsi serebral. Kondisi-kondisi ini dapat dijumpai pada fase awal/akut/syok yang biasanya berlangsung sampai 72 jam pertama.

Bila luas luka bakar kurang dari 20 % biasanya mekanisme kompensasi tubuh masih bisa mengatasinya  tetapi bila diatas 20 % akan terjadi syok hipovolemik dengan gejala yang khas seperti gelisah, pucat, dingin, berkeringat, nadi kecil dan cepat, tekanan darah menurun dan produksi urin berkurang. Pembengkakan terjadi pelan-pelan, maksimal terjadi setelah delapan jam.

Pada kebakaran dalam ruang tertutup atau bila luka terjadi di muka, dapat terjadi kerusakan mukosa jalan napas karena gas, asap, atau uap panas yang terisap. Udem yang terjadi dapat menyebabkan gangguan berupa hambatan jalan napas karena udem laring. Gejala yang timbul adalah sesak napas, takipnea, stridor, suara serak, dan dahak berwarna gelap karena jelaga.

Dapat juga terjadi keracunan gas CO atau gas beracun yang lain. Karbon monoksida akan mengikat hemoglobin dengan kuat sehingga hemoglobin tak mampu lagi mengikat oksigen. Tanda keracunan ringan adalah lemas, bingung, pusing, mual, dan muntah. Pada keracunan yang berat terjadi koma. Bila lebih dari 60% hemoglobin terikat CO, penderita akan meninggal.

Setelah 12-24 jam, permeabilitas kapiler mulai membaik dan terjadi mobilisasi dan penyerapan cairan edema kembali ke pembuluh darah. Ini ditandai dengan meningkatnya diuresis.

Luka bakar sering tidak steril. Kontaminasi pada kulit mati, yang merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan kuman, akan mempermudah infeksi. Infeksi ini sulit diatasi karena daerahnya tidak tercapai oleh pembuluh kapiler yang mengalami trombosis. Padahal pembuluh ini membawa sistem pertahanan tubuh atau anti biotik. Kuman penyebab infeksi pada luka bakar, selain berasal dari kulit penderita sendiri, juga dari kontaminasi kuman saluran napas atas dan kontaminasi kuman di lingkungan rumah sakit. Infeksi nosokomial ini biasanya sangat berbahaya karena kuman banyak yang sudah resisten terhadap berbagai antibiotik.

Pada awalnya infeksi biasanya disebabkan oleh kokus gram positif yang berasal dari kulit sendiri atau dari saluran napas, tetapi kemudian dapat terjadi invasi kuman gram negatif. Pseudomonas aeruginosa yang dapat menghasilkan eksotoksin protease dan toksin lain yang berbahaya, terkenal sangat agresif dalam invasinya pada luka bakar. Infeksi pseudomonas dapat dilihat dari warna hijau pada kasa penutup luka bakar. Kuman memproduksi enzim penghancur keropeng yang bersama dengan eksudasi oleh jaringan granulasi membentuk nanah.

Infeksi ringan dan noninvasif ditandai dengan keropeng yang mudah terlepas dengan nanah yang banyak. Infeksi yang invasif ditandai dengan keropeng yang kering dengan perubahan jaringan di tepi keropeng yang mula-mula sehat menjadi nekrotik; akibatnya, luka bakar yang mula-mula derajat II menjadi derajat III. Keadaan ini disebabkan oleh trombosis; kuman menimbulkan vaskulitas pada pembuluh kapiler di jaringan yang terbakar sehingga jaringan tersebut mati.

Bila luka bakar dibiopsi eksudatnya dibiak, biasanya ditemukan kuman dan terlihat invasi kuman tersebut ke jaringan sekelilingnya. Luka bakar demikian disebut luka bakar septik. Bila penyebabnya kuman gram pisitif seperti stafilokokus atau basil gram negatif lainnya, dapat terjadi penyebaran kuman lewat darah (bakteremia) yang dapat menimbulkan fokus infeksi di usus. Syok septik dan kematian dapat terjadi karena toksin kuman yang menyebar di darah.

Bila penderita dapat mengatasi infeksi, luka bakar derajat II dapat sembuh dengan meninggalkan cacat berupa parut. Penyembuhan ini dimulai dari sisa elemen epitel yang masih vital, misalnya sel kelenjar sebasea, sel basal, sel kelenjar keringat, atau sel pangkal rambut. Akibat luka bakar derajat II yang dalam mungkin terjadi parut hipertrofik yang nyeri, gatal, kaku, dan secara estetik sangat jelek.

Luka bakar derajat III yang dibiarkan sembuh sendiri akan mengalami kontraktur. Bila ini terjadi di persendian, maka fungsi sendi dapat berkurang atau hilang.

Pada luka bakar berat dapat ditemukan ileus paralitik. Pada fase akut peristaltis usus menurun atau berhenti karena syok, sedangkan pada fase mobilisasi, peristalsis dapat menurun karena kekurangan ion kalium.

Stres atau beban faali yang terjadi pada penderita luka bakar berat dapat menyebabkan terjadinya tukak di mukosa lambung atau duodenum dengan gejala yang sama denga gejala tukak peptik. Kelainan ini dikenal sebagai tukak curling. Yang dikhawatirkan pada tukak Curling ini adalah penyulit perdarahan yang tampil sebagai hematemesis dan/atau melena.

Fase permulaan luka bakar merupakan fase katabolisme, sehingga keseimbangan protein menjadi negatif. Protein tubuh banyak hilang karena eksudasi, metabolisme tinggi, dan infeksi. Penguapan berlebihan dari kulit yang rusak juga memerlukan kalori tambahan. Tenaga yang diperlukan tubuh pada fase ini terutama didapat dari bpembakaran protein dari otot skelet. Oleh karena itu penderita menjadi sangat kurus, otot mengecil dan berat badan menurun. Dengan demikian korban luka bakar menderita penyakit berat yang disebut penyakit luka bakar. Bila luka bakar menyebabkan cacat, terutama bila luka mengenai wajah sehingga rusak berat, penderita mungkin mengalami beban kejiwaan berat. Jadi prognosis luka bakar terutama ditentukan oleh luasnya luka bakar.

 

 

Terapi

            Tindakan yang pertama kali dilakukan seperti setiap penderita trauma, di tempat kejadian adalah mematikan api misalnya dengan menyelimuti dan menutup bagian yang terbakar,berguling-guling di tanah untuk mencegah meluasnya pakaian yang terbakar, menceburkan diri ke air dingin,dll. Semua tindakan dilakukan dengan prinsip untuk  mempersingkat kontak korban dengan sumber yang menyebabkan luka bakar.

            Proses koagulasi protein sel di jaringan yang terpajan suhu tinggi berlangsung terus setelah api dipadamkan sehingga destruksi tetap meluas. Proses ini dapat dihentikan dengan mendinginkan daerah yang terbakar dan mempertahankan suhu dingin ini pada jam pertama. Oleh karena itu merendam bagian yang terbaka selama 15 menit pertama dalam air sangat bermanfaat untuk mempertahankan suhu jaringan sehingga kerusakan lebih dangkal dan diperkecil.

            Pertolongan pertama setelah sumber panas di padamkan, disingkirkan, atau dihilangkan, terdiri dari merendam daerah luka bakar dalam air atau menyiraminya dengan air mengalir selama 15 menit.

            Prisip penanganan utama adalah mendinginkan daerah yang terbakar dengan air, mencegah infeksi dan memberi kesempatan sisa-sisa sel epitel untuk berploriferasi dan menutup permukaan luka. Luka dapat dirawat secara tertutup atau terbuka.

            Pada penderita luka bakar berat,selaian penanganan umum seperti pada luka bakar ringan,maka hal yang pertama kali harus diperhatikan adalah  airway, breathing, circulation pasien jika perlu dilakukan resuitasi segera.

Airway : bila pasien menunjukan gejala terbakarnya jalan nafas, diberikan campuran udara lembab dan oksigen. Bila terjadi udem laring dipasang pipa endotrakeal atau trakeostomi.

Breathing : jika ad gejala gangguan breathing yang bisa disebabkan keracunan CO maka diberikan oksigen murni.

Circulation : bila ada tanda-tanda syok, segera di resusitasi.

            Perawatan lokal adalah mengoleskan luka dengan antiseptik dan membiarkannya terbuka untuk perawatan terbuka atau menutupnya dengan pembalut steril untuk perawatan tertutup. Selanjutnya diberikan pencegahan tetanus berupa ATS dan atau toksoid. Analgesik diberikan jika penderita kesakitan.

 

 

Pemberian cairan intravena

Sebelum infus diberikan, luas dan dalamnya luka bakar harus ditentukan secara teliti.

 

 Ada beberapa cara untuk menghitung kebutuhan cairan :

  1. Cara Evans :

a.       Luas luka bakar (%) x  berat badan (Kg) à ml Nacl / 24 jam

b.      Luas luka bakar (%) x  berat badan (Kg) à ml plasma / 24 jam

c.       2000 cc Glukosa 5 % / 24 jam

 

Hari pertama : separuh dari jumlah a + b + c diberikan dalam 8 jam pertama. Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.

Hari kedua :  setengah dari jumlah cairan hari pertama

Hari ketiga :  setengah jumlah cairan hari kedua

 

Penderita mula-mula dipuasakan karena peristaltik usus terhambat pada keadaan presyok, dan mulai di berikan minum segera setelah fungsi usus normal kembali. Jika diuresis pada hari ketiga memuaskan dan penderita dapat minum tanpa kesulitan, infus dapat dikurangi bahkan dihentikan.

 

Keterangan :

 

a dan b : pengganti cairan yang hilang akibat edema.

Plasma diperlukan untuk :

*      mengganti plasma yng keluar dari pembuluh darah

*      meninggikan tekanan osmosis hingga mengurangi perembesan cairan keluar

*      juga berfungsi untuk menarik kembali cairan yag telah keluar dari intravaskular.

 

  1. Cara Baxter

 

Luas luka bakar (%) x brat badan (Kg) x 4 ml

 

Cara pemberian :

*      Separuh dari jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama

*      Sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya.

*      Heri pertama terutama diberikan elektrolit yaitu larutan Ringer Laktat karena defisit ion Na.

*      Hari kedua diberikan setengah dari hari pertama.

 

Pemberian dapat ditambah jika perlu umpamanya bila penderita dalam keadaan syok, atau jika diuresis kurang.

 

Jumlah produksi urin normal

            Penting diketahui sebagai acuan untuk mengetahui apakah pengobatan cairan memadai atau tidak.

 

Produksi urin normal

*      Dewasa           : 0,5-1 cc / Kg BB / jam

*      Anak-anak       : 1 cc /  Kg BB / jam

*      Bayi                 : 2 cc / Kg BB / jam

 

Hal-hal yang perlu dimonitoring pada penderita luka bakar :

*       Pengukuran tensi, nadi, dan frekuensi nafas.

*       Pemasagan kateter buli-buli untuk mengukur produksi urin per jam

*       pemasangan kateter pengukuran tekanan vena

*       pemeriksaan haemoglobin dan hematrokrit

*       analisis gas darah.

 

 

Hal-hal yang perlu diberikan pada penderita luka bakar :

*      Antibiotik sistemik spektrum luas untuk mencegah infeksi. ( diberikan berdasarkan kultur dan resistensi ).

*       Obat suportif diberikan secara rutin :

-          Vitamin A,B, dan D

-           Vitamin C 500 mg

-           FE sulfat 500 mg

*       Antasid diberikan untuk pencegahan tukak stres.

*       Antifiretik diberikan jika suhu tinggi.

*      Nutrisi harus diberikan cukup untuk menutup kebutuhan kalori dan keseimbangan nitrogen yang negatif pada fase katabolisme yaitu sebanyak 2500-3000 kalori / hari dengan kadar protein yang tinggi. Makanan diberikan melalui pipa lambung  atau ditambah dengan nutrisi parenteral.

*      Penderita yang mulai stabil keadaannya perlu fisioterapi untuk memperlancar peredaran darah dan mencegah kekakuan sendi. Kalau perlu sendi diistirahatkan dalam posisi fungsional dengan bidai

*      Penderita harus dipantau terus menerus. Keberhasilan pemberian cairan dapat dilihat dari diuresis normal yaitu sekurang-kurangnya 1 ml / Kg BB / jam.

Jaingan parut yang membentuk kontraktur merupakan jaringan granulasi. Semakin dalam luka bakar, dan semakin lama tidak dilakukan grafting, semakin banyak jaringan granulasi, maka jaringan parut semakin buruk, sehingga resiko kontraktur semakin besar. Karena itu lakukan grafting secara dini.

 

Posisi perawatan untuk mencegah kontraktur :

o     Ekstensi leher dengan bantal atau collar

o     Ekstensi pergelangan tangan

o     Jika axilla terbakar abduksi lengan 90º

o     Jika fossa kubiti terbakar ekstensikan siku 180º

o     Bidai ekstensi pergelangan tangan

o     Abduksi paha 15-20º

o     Ekstensi sendi paha dan lutut

o     Pergelangan kaki 90º

 

Perkembangan kontraktur pada luka bakar harus dicegah pada tahap dini.

 

Pengobatan lokal dan perawatan luka bakar :

 

Luka bakar derajat I dan II yang menyisakan elemen epitel berupa kelenjar sebasea, kelenjar keringat, atau pangkal rambut, dapat diharapkan sembuh sendiri, asal dijaga supaya elemen epitel tersebut tidak hancur atau rusak karena infeksi. Pada luka yang lebih dalam perlu diusahakan secepat mungkin membuang jaringn kulit yang mati. Dan memberi obat topikal yang daya tembusnya tinggi sampai mencapai dasar jaringan mati. Perawatan setempat dapat dilakukan secara terbuka atau tertutup.

 

Keuntungan perawatan terbuka :

o  Mudah dan murah.

o  Luka tetap dingin dan kering sehingga kuman sulit berkembang.

o  Inspeksi dan pemeriksaan selalu dapat dilakukan.

o  Sesuai dengan bagian tubuh yang sukar dibalut (wajah,perineum,bokong).

 

Kerugian perawatan terbuka :

o  Bila digunakan obat tertentu misalnya nitras argenti alas tidur menjadi kotor.

o  Tidak enak untuk dipandang, karena luka tampak kotor.

 

Perawatan tertutup : dilakukan dengan memberikan balutan yang dimaksudkan agar luka tidak terkontaminasi, tetapi ditutup dengan cukup longgar sehingga masih bisa berlangsung penguapan.

 

Keuntungan perawatan tertutup :

o   Luka tampak rapi.

o   Terlindung dan enak bagi penderita.

 

Kerugian perawatan tertutup :

o  Diperlukan tenaga dan dana lebih banyak

o  Suasana yang lembab dan hangat memungkinkan kuman untuk berkembang biak.

 

 

Obat topikal yang dipakai dapat berbentuk larutan,salep atau krim.

o  Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk sediaan kassa (tulle).

o  Antiseptik

§   Betadine atau nitras argenti 0,5 %

§   Zilvesulfadiazin dalam bentuk krim 1 %

Þ     Bakteriostatik

Þ     Daya tembus cukup

Þ     Efektif untuk semua kuman

Þ     Tidak menimbulkan resistensi

Þ     Aman

 

Pada luka bakar derajat II sebaiknya keropeng dibiarkan menjadi kering. Keropeng ini akan terlepas sendiri seperti kulit ular setelah 7-12 hari. Pada waktuitu kulit dibawahnya sudah sembuh.

 

Pada luka bakar derajat III sebaiknya keropeng dibiarkan menjadi kering selama 10-18 hari. Kemudian keropeng dapat dilepaskan dan dilakukan cangkok kulit.

 

 

Tindakan bedah

 

Pengangkatan keropeng atau eskarotomi dilakukan pada luka bakar derajat III yang melingkar pada ekstremitas atau tubuh sebab pengerutan keropeng, dan pembengkakan yang terus berlanjut dapat membahayakan sirkulasi (menekan organ-organ yang ada didaerah sekitarnya) yang dapat menyebabkan bagian distalnya mati.

Tanda-tanda dini dari penjepitan ini berupa : nyeri kemudian kehilangan daya rasa menjadi kebas pada ujung-ujung distal. Keadaan ini harus cepat ditolong dengan membuat irisan memanjang yang membuka keropeng sampai penjepitan bebas.

 

Deberidement diusahakan sedini mungkin untuk membuang jaringan mati dengan eksisi tangensial. Keadaan ini dilakukan setelh keadaan penderita stabil.

 

Penutupan luka bakar dengan bahan biologis (kulit mayat, kulit kulit binatang atu amnion manusia) dianjurkan jika transflantasi denang kulit penderita mengalami kesulitan. Bahan tersebut berfungsi sebagai pencegah infeksi, penghalang penguapan berlebihan, dan mengurangi nyeri.

 

Penyulit yang ditakuti pada penderita luka bakar : 

v  Infeksi dan sepsis

v  Oligouria dan anuria

v  Udema paru

v  Anemia (terjadi karena destruksi eritrosit yang terbakar, depresi sumsum tulang karena sepsis, perdarahan pada luka saat penggantian pembalut).

v  Kontraktur

 

Permasalahan pasca luka bakar yang terjadi adalah akibat dari jaringan parut yang dapat berkembang menjadi cacat berat. Kontraktur kulit dapat menganggu fungsi dan menyebabakan kekakuan sendi, atau menimbulkan cacat estetis yang jelek sekali terutama bila parut tersebut berupa keloid. Kekakuan sendi memerlukan program fisioterapi yang intensif dan kontraktur memerlukan tindakan bedah.

            Pada cacat estetik yang berat mungkin diperlukan ahli ilmu jiwa untuk mengembalikan rasa percaya diri penderita, dan diperlukan pertolongan ahli bedah rekonstruksi terutama jika cacat menaenai wajah atau tangan.

            Bila luka bakar merusak jalan nafas akibat inhalasi, dapat terjadi atelektasis, pnemonia, atau insufisiensi fungsi paru pasca trauma.

 

Tahap-tahap yang  dilakukan pada luka bakar

 

1.  Tindakan segera pada luka bakar

Airway

    Bila ditemukan tanda-tanda dibawah ini harus dicurigai adanya trauma inhalasi. Keadaan tersebut memerlukan pertolongan segera dan penanganan definitif, termasuk dalam hal airway. Bila terdapat trauma inhalasi harus dilakukan rujukan ke pusat rumah sakit luka bakar. Terdengarnya stridor adalah indikasi untuk intubasi endotrakeal.

 

Tanda klinis trauma inhalasi :

v   Luka bakar wajah

v   Hangusnya alis mata dan bulu hidung

v   Adanya timbunan karbon dan adanya tanda-tanda inflamasi akut didalam orofaring.

v   Sputum yang mengandung arang atau carbon

v   Adanya riwayat terkurung dalam kepungan api

v   Ledakan yang menyebabkan trauma luka bakar pada kepala dan badan

v   Kadar karboksi hemoglobin > 10 % setelah berada dalam lingkungan api.

 

Menghentikan proses luka bakar

Semua pakaian yang dipakai harus segera dilepaskan

Pemberian cairan infus

Cari vena yang dapat digunakan untuk infus menggunakan jarum F16.

 

2.   Penilaian penderita luka bakar

   Anamnesis

v  riwayat luka bakar, cedera ikutan

v  riwayat penyakit yang sedang diderita

v riwayat alergi

v riwayat imunisasi tetanus

Luas luka bakar

Kedalaman luka bakar

 

3.   Stabilisasi penderita luka bakar

  1. Airway
  2. Breathing

v  Trauma bakar lansung menyebabkan udem / obstruksi dari saluran nafas atas.

v  Inhalasi dari hasil-hasil pembakaran yang tidak sempurna dan asap beracun.

v  Keracunan monoksida.

C.        Volume sirkulasi

             Pengukuran produksi urine / jam

D.       Pemeriksaan fisik

v   Tentukan luas dan dalamnya luka bakar

v   Periksa apakah ada cedera ikutan selain luka bakar

v   Tentukan berat badan penderita

E.        Catatan urutan penanganan ( Flow sheet )

F.         Pemeriksaan lain yang diperlukan

v  Darah

-          Darah lengkap

-          Golongan darah beserta pemeriksaan lainya ( cross-match )

-          Kadar HB CO

-          Gula darah

-          Elektrolit

-          Tes kehamilan pada wanita usia subur

-          Analisis gas darah / Astrup

v   Pemeriksaan radiologi : foto Thoraks

G.       Luka bakar melingkar pada ( circumferential ) pada ektremitas :

Upaya menjamin sirkulasi perifer

1.      Lepaskan seluruh perhiasan yang dipakai

2.      Nilai keadaan sirkulasi distal à sianosis,gangguan pengisian kapiler, gangguan neurologis yang progresiv ( misalnya parestesia,nyeri bagian dalam )

3.      Gangguan sirkulasi pada luka bakar ekstremitas dapat dihilangkan dengan eskhartomi (konsultasi dengan ahli bedah)

4.      Fasotomià diperlukan jika luka bakar disertai fraktur, trauma tekan (crush injury),trauma listrik atau trauma bakar yang melukai jaringan bawah fasia.

H.       Pemasangan pipa lambung

Bila penderita muntah-muntah, kembung, luka bakar melebihi 20 %.

I.           Obat-obatan narkotika, analgetik, dan sedativa.

  Gelisah karena hipoksemia dan hipovolemia serta nyeri.

J.          Perawatan luka

Luka derajat II sangat nyeri, terutama bila terhembus angin.

-          penutupan luka dengan kain bersih

-          jangan pecahkan bulla atau vesikel

-          jangan berikan zat-zat antibiotik topikal

-          jangan kompres air dingin karena dapat menyebabkan hipotermia

K.        Antibiotika

Diberikan hanya bila terjadi infeksi.