Rabu, 29 Mei 2013

CHOLELITHIASIS


DEFINISI

Cholelithiasis adalah penyakit batu empedu; chole =  awalan mengenai empedu, lithos = batu.

Cholelithiasis menunjukkan penyakit batu empedu yang dapat ditemukan didlam kandung empedu, atau didalam duktus koledokus, atau pada kedua-duanya. 

Batu empedu yang mengandung material kristal atau amorf dapat mempunyai berbagai macam bentuk. Batu tersebut dibentuk di dalam vesika felea.

Empedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 cc/hari, terdiri dari larutan netral dari garam empedu yang terikat dalam bentuk natrium, kolesterol, fosfolipid dan pigmen empedu.

 

Faktor predisposisi terbentuknya batu empedu :

1. Ekskresi garam empedu

Asam empedu dihidroksi (chenodeoxycholyc dan deoxycholic acid) kurang polar dibandingkan  asam trihidroksi (cholic acid). Jadi dengan bertambahnya kadar asam empedu dihidroksi mungkin menyebabkan terbentuknya batu empedu . Pada penderita cholelithiasis dijumpai kenaikan kadar asam empedu dihidroksi (terutama deoxycholic). Didalam batu empedu dijumpai asam litocholic.

2. Kolesterol empedu.

Kadar kolesterol empedu yang meningkat dapat dijumpai pada orang yang obesitas, kehamilan, diit kaya lemak yang menyebabkan kadar kolesterol didalam vesika felea sangat tinggi.

 

3. Substansia mukus 

Perubahan dalam banyaknya dan komposisi substansia mucus dalam empedu mungkin penting dalam pembentukan batu empedu.

4. Pigmen empedu

Pada anak muda terjadinya batu empedu mungkin disebabkan  karena bertambahnya pibmen empedu. Kenaikan pigmen empedu dapat terjadi karena hemolisis yang kronis. Ekskresi bilirubin adalah berupa larutan bilirubin glukoronid.

5. Infeksi

Adanya infeksi dapat menyebabkan kerusakan dinding kandung empedu, sehingga menyebabkan terjadinya stasis yang dapat menaikkan pembentukan batu.

6. Faktor lain

Terjadinya kemungkinan bergantung pada diit, tingginya kalori dan pemasukan lemak, usia (< 50 tahun , banyak dijumpai pada kaum wanita).

 

JENIS – JENIS BATU EMPEDU

1. Batu empedu kolesterol

Batu kolesterol mengandung paling sedikit 70% kristal kolesterol dan sisanya adalah kalsiumkarbonat, kalsiumpalmitat dan kalsiumbilirubinat

Bentuk batu empedu kolesterol:

·  Bentuk soliter atau tunggal

Tipe batu ini mengandung kristal kasar kekuning- kuningan, pada foto roentgen terlihat intinya. Bentuknya bulat dengan diameter 4 cm, permukaan licin, noduler.

Batu ini tidak mengandung kalsium

·  Bentuk campuran

Batu ini terbentuk bila terjadi infeksi sekunder pada kandung empedu yaitu mengandung batu empedu kolesterol yang soliter dimana permukaannya tredapat endapan pigmen kalsium.

·  Bentuk ganda

Jenis batu ini jarang dijumpai dan bersifat radiolusen.

 

Proses pembentukan batu kolesterol:

Ø  Penjenuhan empedu oleh kolesterol disebabkan oleh bertambahnya sekresi kolesterol (pada keadaan obesitas,diit tinggi kalori dan lemak), atau penurunan relatif asam empedu atau fosfolipid.

Ø  Pembentukan nidus yang berasal dari pigmen empedu, mukoprotein, lendir, protein lain, bakteri.

Ø  Kristalisasi yang meliputi suatu nidus.

Ø  Pembentukan batu yang merupakan pengendapan kristal kolesterol diatas matriks inorganic, stasis kandung empedu.

 

2. Batu empedu pigmen.(batu kalsiumbilirubinat)

Merupakan batu empedu dengan kadar kolesterol < 25%.

Batu  yang mengandung pigmen empedu dan berbagai macam kalsium dan matriks dari bahan organic. Batu ini biasanya ganda, kecil, keras, amorf, bulat, berwarna coklat, hitam atau hijau tua, ± 10% bersifat radioopaque.

Terjadi akibat proses hemolitik atau infetasi E coli, A lumbrikoides kedalam empedu yang mengubah bilirubin diglukuronida menjadi bilirubin bebas.

Pada penderita dengan batu kalsiumbilirubinat tidak ditemukan empedu yang sangat jenuh dengan kolesterol, tetapi konsentrasi bilirubin yang  tidak terkonyugasi (bebas) meningkat baik didalam kandung empedu maupun di hati yang menyebabkan terbentuknya kristal kalsium bilirubin.

 

3. Batu empedu campuran

Batu ini banyak marupakan jenis yang paling banyak dijumpai (± 80%), terdiri atas kolesterol, pigmen empedu, berbagai garam kalsium dan matriks protein. Biasanya berbentuk ganda dan sedikit mangandung kalsium sehingga bersifat radioopaque.

 

 

 

DIAGNOSIS

Batu empedu pada dasarnya tidak menyebabkan keluhan pada penderita selama batu empedu tidak masuk kedalam duktus sistikus, atau duktus koledokus.

Batu empedu dapat berpindah kedalm duktus koledokus melalui duktus sistikus, yang pada perjalanannya dapat menimbulkan sumbatan aliran empedu secara parsial atau komplit menyebabkan tekanan intraduktus meningkat kemudian terjadi kontraksi otot –otot polos pada duktus, dalam usahanya mengeluarlan batu sehingga dapat

menimbulkan gejala kolik empedu., bila obstruksinya sudah sempurna dapat terjadi retensi empedu yang dapat menimbulkan ikterus obstruktiva.

Pasase batu empedu yang berulang melalui duktus sistikus dapat menimbulkan iritasi dan perlukaan sehingga dapat menimbulkan peradangan pada dinding sistikus dan striktur.

Batu empedu dapat masuk juga kedalam duodenum melalui papilla vateri yang

menyebabkan timbulnya kolik, iritasi, perlukaan mukosa, peradangan, striktur.

 

Gejala dan tanda

Ø  Pada penderita cholelithiasis (1/2 – 2/3) umumnya asimtomatik, yang kadang diketahui secara kebetulan pada saat foto roentgen, usg, perabaan waktu operasi.

Pada pemeriksaan fisik dan laboratorium tidak ditemukan kelainan.

Ø  Pada penderita yang simtomatik dapat ditemui gejala seperti : nyeri di daerah epigastrium atau di bawah iga kanan yang intermiten dan dapat menjalar ke belakang (punggung), disertai mual dan muntah. Pasien dapat mengalami episode nyeri abdomen akut yang di sebut kolik bilier

 

Pemeriksaan fisik

o   Batu kandung empedu :

- Murphy sign + , apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik nafas

  panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan

  pemeriksa dan pasien berhenti bernafas.

- Nyeri tekan dengan punktum maksimum di daerah letak anatomik kandung

  empedu

o   Batu saluran empedu

- Pada palpasi hepar teraba agak membesar

- Sklera ikterik

 

Pemeriksaan laboratorium

o   leukositosis.

o   kadar bilirubin serum meningkat, mungkin disebabkan karena adanya batu dalam duktus koledokus.

o   alkali fosfatase serum meningkat

o   kadar amylase serum meningkat

 

DIAGNOSIS BANDING

o   Appendicitis

o   Cholangitis

o   Cholecystitis

 

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Foto polos abdomen

10-15% :  batu radioopaque. Untuk terlihat, batu harus mengandung cukup kalsium.

 

 

2. Ultrasonografi

Terdapat 2 tipe :

- USG transabdomen

- USG endoskopi

 

USG transabdomen

Dapat Mengidentifikasikan :

n  97% batu empedu pada saluran empedu

n  Penebalan saluran empedu

n  Pembesaran saluran empedu

 

USG Endoskopik

n  Melihat batu empedu yang lebih kecil

n  Mengidentifikasi batu empedu pada duktus biliaris

 

3. Kolesistografi oral

n  Sodium tyropanoat dan acid iopanoic digunakan oral, malam sebelum pemeriksaan. Zat tersebut di serap lalu terikat albumin dalam darah portal kemudian di ekstraksi oleh hepatosit dan di sekresi empedu.

n  Gambaran opaque tampak sekitar 8- 12  jam setelah zat tersebut di cerna.

n  Hasil true positif adalah gambaran non opaque (radiolusen)pada penyakit kandung empedu

 

4. ERCP (Kolangiopankreatografi Retrograd Endoskopi).

n  Sebagai alat diagnostik dan instrumen untuk mengekstraksi  batu empedu pada duktus hepatikus dan duktus biliaris

 

TERAPI

Ø  Penatalaksanaan Medis

-Terbanyak digunakan adalah ursodioxycholate yaitu komponen asam empedu

  untuk menghambat sintesis kolesterol

- Lisis batu

  Penghancuran batu menggunakan garam empedu kolelitolitik dapat berhasil  

pada batu kolesterol selama satu sampai dua tahun

- Extracorporeal short wafe litotripsy

Bekerja dengan menghancurkan batu menjadi lebih kecil sehingga dengan spontan dapat melalui duktus empedu sehingga masuk ke dalam duodenum

 

Ø  Penatalaksanaan Bedah

a. Kolesistektomi

- Indikasinya adalah pasien dengan kelainan kandung empedu yang

simtomatik.

- Kontraindikasi mutlak adalah sedang menderita peritonitis, obstruksi usus kecil,kelainan pembekuan darah, hernia diapraghmatika.         

- Kontraindikasi relatif , yaitu: kehamilan, sirhosis, adhesi intra abdomen dan kolesistitis akut..

 

b. Koledokotomi

- Indikasi : kolangitis, atau ditemukan batu               

- Eksplorasi duktus komunis dilakukan jika pada palpasi curiga terdapat batu, duktus komunis tebal atau dilatasi, duktus sistikus dilatasi, penebalan kaput pankreas, dugaan pankreatitis kronis atau satu atau lebih batu kecil dalam kandung empedu atau duktus sistikus.

 

c. Koledokoduodenostomi

Dilakukan untuk memperbaiki pengaliran empedu dengaan  koledokoduodenostomi laterolateral atau koledokojejunostomi Roux en Y

 

 

Senin, 29 April 2013

Sirkumsisi

            Sirkumsisi




Definisi
Sirkumsisi adalah tindakan pengangkatan sebagian/seluruh prepusium penis dengan tujuan tertentu.

Indikasi
o Agama
o Sosial
o Medis:
·      Fimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke belakang atau tidak dapat membuka)
·      Parafimosis (prepusium tidak dapat ditarik ke depan)
·      Kondiloma akuminata
·      Pencegahan terjadinya tumor (mencegah menumpuknya smegma yang diduga kuat bersifat karsinogenik)

Kontraindikasi
o Absolut: hipospadia, epispadia
o Relatif: gangguan pembekuan darah (misalnya hemofilia), infeksi lokal, infeksi umum, diabetes melitus

Komplikasi
Perdarahan, hematoma, infeksi

Peralatan (minimal)
o Gunting jaringan 1 buah
o Klem arteri lurus 3 buah
o Klem arteri bengkok 1 buah
o Pinset anatomis 1 buah
o Pemegang jarum (needle holder) 1 buah
o Jarum jahit kulit 1 buah

Perlengkapan
o Kapas
o Kassa steril
o Plester
o Kain penutup steril yang berlubang di tengahnya (duk)
o Semprit 3 ml atau 5 ml
o Benang plain cat gut ukuran 3.0
o Sarung tangan steril
o Larutan NaCl 0.9% atau aqua destilata

Obat-obatan
o Lidokain HCl 2% (tanpa campuran adrenalin)
o Larutan antiseptik: larutan sublimat, povidon iodine 10%, dan alkohol 70%. .
o Salep antibiotik (kloramfenikol 2% atau tetrasiklin 2%)
o Analgetik oral (antalgin atau parasetamol)
o Antibiotik oral (ampisilin/amoksisilin/eritromisin)
o Adrenalin 1:1.000

Tahap-tahap Sirkumsisi
1. Persiapan operasi
1.    Persiapan pasien. Sebelum dilakukan sirkumsisi, kita tentukan tidak ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan sirkumsisi. Hal ini diketahui dengan melakukan anamne­sis dan pemeriksaan fisik. Dari anamnesis ditelusuri:
o Riwayat gangguan hemostasis dan kelainan darah
o Riwayat alergi obat, khususnya zat anestesi lokal, antibiotik, maupun obat lainnya
o Penyakit yang pernah/sedang diderita, misalnya demam, sakit jantung, asma
Pada pemeriksaan fisis dicari:
o Status generalis: demam, tanda stres fisik, kelainan jantung dan paru
o Status lokalis: hipospadia, epispadia, atau kelainan kongenital lainnya
Berikan penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan dan minta persetujuan tindakan sirkumsisi dari pasien/orang tua pasien (informed concent). Bila telah siap baringkan pasien di atas meja operasi.
1.    Persiapan alat dan obat-obatan sirkumsisi
2.    Persiapan alat dan obat-obatan penunjang hidup bila terjadi syok anafilaksis.

2. Asepsis dan antisepsis
·      Pasien telah mandi dengan mem­bersihkan alat kelamin (genitalia­nya) dengan sabun
·      Bersihkan daerah genitalia dengan alkohol 70% untuk menghilangkan lapisan lemak
·      Bersihkan daerah genitalia dengan povidon iodin 10% dengan kapas dari sentral ke perifer membentuk lingkaran ke arah luar (sentrifugal)

3. Anestesi lokal
Dilakukan anestesi lokal dengan menggunakan lidokain 2%
·      Lakukan anestesi blok pada n. dorsalis penis dengan menusukkan jarum pada garis medial di bawah simfisis pubis sampai menembus fascia Buck (seperti menembus kertas) suntikkan 1,5 ml, tarik jarum sedikit, tusukkan kembali miring ke kanan/kiri menembus fasia dan suntikkan masing-masing 0,5 ml; lakukan aspirasi dahulu sebelum menyuntik untuk mengetahui apakah ujung-jarum berada dalam pembuluh darah atau tidak. Jika darah yang teraspirasi maka pindahkan posisi ujung jarum, aspirasi kembali. Bila tidak ada darah yang teraspirasi, masukanlah zat anestesi.
·      Lakukan anestesi infiltrasi di lapisan subkutis ventral penis 0,5-0,75 ml untuk kedua sisi.

4. Pembersihan glans penis
Buka glans penis sampai sulkus korona penis terpapar. Bila ada perlengketan, bebaskan dengan klem arteri atau dengan kassa steril. Bila ada smegma, bersihkan dengan kasa mengandung larutan sublimat.

5. Periksa apakah anestesi sudah efektif
Caranya dengan melakukan penjepitan pada daerah frenulum dengan klem.

6. Pengguntingan dan penjahitan
·      Pasang klem pada prepusium di arah jam 6, 11, dan 1 dengan ujung klem mencapai _+ 1,5 cm dari sulkus korona penis. Tujuannya sebagai pemandu tindakan dorsumsisi dan sarana hemostasis
·      Lakukan dorsumsisi dengan menggunting kulit dorsum penis pada jam 12 menyusur dari distal ke proksimal sampai dengan 0,3 – 0,5 cm dari korona
·      Pasang jahitan kendali dengan menjahit batas ujung dorsumsisi kulit agar pemotongan kulit selanjutnya lebih mudah dan simetris
·      Gunting secara melingkar (tindakan sirkumsisi) dimulai dari dorsal pada titik jahitan jam 12 melingkari penis, sisakan mukosa sekitar 0,5 cm. Pada sisi frenulum, pengguntingan membentuk huruf V di kiri dan kanan klem. Pemotongan harus simetris, dan sama panjang antara kulit dan mukosa
·      Atasi perdarahan yang timbul ada jepitan klem, kemudian lakukan penjahitan hemo­stasis dengan benang catgut
·      Lakukan penjahitan aproksimasi kulit dengan mukosa. Jahit kiri dan kanan glans biasanya masing-masing 2-3 simpul. Prinsipnya adalah mempertemukan pinggir kulit dan pinggir mukosa
·      Jahit mukosa distal frenulum (jam 6) dengan jahitan angka 8 atau 0
·      Setelah penjahitan selesai, gunting mukosa frenulum di sebelah distal dari jahitan sebelumnya, dan bersihkan dengan iodine 10% lalu beri salep kloramfenikol 2%

7. Pembalutan
·      Gunakan kassa yang telah diolesi salep antibiotik
·      Jangan sampai penis terpuntir saat mem­balut

8. Pemberian obat-obatan
·      Analgesik oral (antalgin atau parasetamol)
·      Antibiotik oral (ampisilin,amoksisilin, eritromisin)
·      Pemberian obat-obatan ini dapat dimulai 2-3 jam sebelum sirkumsisi

9. Anjuran pascaoperasi
·      Penjelasan kepada pasien/orang tua
·      Balutan dibuka 4-5 hari kemudian setelah membasahi perban dengan rivanol. Perhatikan adanya infeksi, pus, hematom, atau luka yang belum menutup
·      Bila ada infeksi, pemberian antibiotik diteruskan hingga hari ke-6-7

TUMOR OTAK



TUMOR OTAK

PENDAHULUAN
Pada setiap tahun lebih dari 17.000 orang di Amerika Serikat diketahui mempunyai tumor otak. The National Cancer Institue (NCl), menulis buku tentang tumor otak untuk membantu pasien dan keluarganya dan teman-temannya untuk mengetahui tentang tumor otak.
Tumor otak adalah suatu keadaan dimana sel otak tumbuh tidak terkendali, tidak dapat dikontrol pertumbuhannya.

EPIDEMIOLOGI
Tumor otak primer hanya 2 – 3% dari seluruh jumlah kanker pada orang dewasa. Kira-kira 18.000 kasus baru pasien tumor otak dan dengan kematian 14.000. Pada anak-anak tumor otak primer kira-kira 25% dari seluruh tumor.
Tumor otak dapat terjadi pada setiap umur, dari penelitian, tumor otak sering terdapat pada anak-anak 3 – 12 tahun dan pada dewasa sekitar 40 – 70 tahun.

ANATOMI
-       Otak terbagi atas 3 bagian mayor, yaitu :
  1. Cerebrum
·         Merupakan bagian yang paling besar
·         Terdiri atas bagian kiri dan kanan yang disebut hemispherium Cerebri
·         Berfungsi untuk kontrol terhadap pembicaraan, emosi
  1. Cerebellum
·         Terletak dibawah Cerebrum dan dibelakang otak
·         Berfungsi untuk keseimbangan dan fungsi koordinasi seperti berjalan dan berbicara.
  1. Batang otak
·         Batang otak menghubungkan otak dan medulla spinalis
·         Berfungsi sebagai rasa lapar, rasa haus, pengatur suhu, tekanan darah dan pernapasan
-       Otak dilindungi oleh tulang tengkorak dan ditutupi oleh 3 membran yang disebut meningen
-       Otak juga dilindungi oleh cairan serebrospinal, yang diproduksi oleh pleksus khoroideus, yang masuk ke dalam 4 ventrikel dan rongga antara meningen. Cairan serebrospinal membawa nutrient dari darah ke otak dan membawa kembali zat-zat yang tidak diperlukan lagi dari otak ke darah.
-       Otak terdiri dari beberapa tipe sel, setiap tipe mempunyai fungsinya masing-masing. Ketika sel kehilangan kemampuan untuk mengontrol pertumbuhannya dan sel-sel diluar suatu massa jaringan disebut Tumor.

KLASIFIKASI
-       Klasifikasi tumor, terbagi dua yaitu :
  1. Tumor Jinak (Benigna)
·         Tidak terdapat sel kanker
·         Biasanya dapat diangkat dan tidak berulang
·         Batas tegas
·         Bersifat tidak menginvasi ke jaringan sekitar tapi dapat menekan daerah yang sensitive dari otak dan mengakibatkan gejala
·         Bila terletak di daerah vital dari otak dan menganggu fungsi vital maka dapat dipikirkan suatu mlaignasi
  1. Tumor Ganas (Maligna)
·         Mengandung sel kanker
·         Menganggu fungsi vital dan mengancam nyawa
·         Tumbuh cepat dan menginvasi ke jaringan sekitar otak
·         Seperti tanaman, tumor maligna mempunyai akar yang tumbuh ke dalam jaringan otak yang sehat
·         Tumor otak maligna bisa encapsulated

-       Klasifikasi tumor otak menurut WHO, dibagi menjadi 9 kategori tumor otak primer, yaitu :
Tipe
Sel Asal
Infiltratif astrositoma
Pilositik Astrositoma
Astrosit
Astrosit
Oligodendroglioma
Oligodendrosit
Mixed Oligodenodroglioma
Oligidendrosit, astrosit
Glioblastoma Multiforme
Astrosit, Astroblas, Spongioblas
Ependimomaa
Ependimosit
Meduloblastoma
Sel Primitif neural
Meningioma
Meningen
Other


-       Klasifikasi tumor otak menurut lokasi, yaitu :
  1. Supratentorial, yaitu Tumor yang terletak di atas tentorium serebelli
  2. Infratentorial atau subtentorial, yaitu : Tumor yang terletak di bawah tentorium serebelli dalam fossa Kranni Posterior

-       Klasifikasi tumor otak seluler berdasarkan histologi untuk orang dewasa, yaitu :
  1. Tumor Glia
Astrosit tumor
Non-infiltrat (Juvenile Pilositik, Subependimal)
Infiltratif (Well differentiated midly and moderately anaplastic astrositoma, glioblastoma, multiforme)
Ependymal tumor
Myxopapillary and well differentiated ependimoma
Anaplastik ependimoma
Ependimoblastoma
Oligodendroglial tumor
Well differentiated oligodendroglioma
Anaplastik oligodendroglioma
Mixed tumor
Mixed astrositoma-ependimoma
Mixed astrositoma-oligodendroglioma
Mixed astrositoma-ependimoma-oligodendriglioma
Meduloblastoma

  1. Non-glial tumor
Pineal parenkim tumor
Pineostioma
Pineoblastoma
Astrositoma
Germ tumor
Germinoma
Embrional karsinoma
Teratoma
Craniopharingioma
Meningioma
Meningioma
Maligna meningioma
Choroid plexus tumor
Choroid plexus papiloma
Anaplastik choroids plexus papilloma

PEMBAGIAN STADIUM TUMOR, MENURUT DIFERENSIASI TUMOR YANG TAMPAK SECARA MIKROSKOPIK
Derajat I    : Sifat kurang agresif, tumbuh lambat, gambar sel hampir normal, bila dilakukan operasi maka merupakan terapi yang efektif
Derajat II  : Relatif tumbuh lambat, ada sel yang abnormal di bawah mikroskop, menginvasi jaringan normal, dapat timbul kembali bila diangkat
Derajat III: Cenderung tumbuh lebih cepat, menginfiltrasi dan dapat timbul kembali bila diangkat
Derajat IV: Tumbuh sangat cepat, bersifat agresif, gambaran bizarre pada mikroskop
     
ETIOLOGI
Etiologi yang jelas tidak diketahui
Faktor-faktor resiko terdiri dari :
-       Terpapar Vinyl Klorida
-       Virus
-       Obat-obatan
-       Zat kimia
-       Radiasi
-       Elektromagnetik
-       Syndrom genetic yaitu: Von Hippel Lindau syndrom, neurofibromatosis tuberous scclerosis

Pembagian tumor menurut asal sel, yaitu
1.      Tumor otak primer
-       Tumor yang berasal dari jaringan otak
-       Diklasifikasikan berdasarkan tipe jaringan asal, yaitu :
1)      Glioma
    • Astrositoma, yaitu : Tumor otak yang berasal dari astrosit, yaitu sel kecil seperti bintang, pada orang dewasa terdapat pada secebrum dan pada anak-anak dapat terjadi di batang otak, serebrum dan serebellum. Merupakan 25% dari seluruh tumor otak
    • Pilositik astrositoma, yaitu non-infiltrating astrositoma, berdiferensiasi, baik, jarang berubah, mampu diangkat semua dengan operasi. Pada anak banyak pada Cerebellum, dan pada orang dewasa banyak terdapat pada Korteks serebri.
    • Glioblastoma Multiforme, yaitu tumor otak yang tumbuh cepat, berasal dari astrosit, astroblas, spongioblas. Banyak pada usia 45 – 55 tahun. Prognosis buruk
    • Ependimoma, berasal dari sel ependim yang ada di dinding ventrikel, dapat juga terjadi di Medulla spinalis. Bisa terdapat pada semua umur, terutama pada anak-anak dan dewasa
    • Oligodendroglioma, berasal dari sel yang menghasilkan myelin untuk melindungi saraf, yang bermula dari serebrum. Tumbuh lambat dan tidak menyebar ke jaringan otak disekeliling. Sering terjadi pada usia pertengahan pada dewasa tetapi bisa terdapat pada semua umur
2)      Medulloblastoma, sebelumnya diduga berasal dari sel glia, tetapi pada penelitian disimpulkan bahwa tumor ini berasal dari sel saraf yang primitif yang secara normal tidak ada pada tubuh setelah lahir, kadang disebut Primitif Neuro Ektoderma Tumor (PNET). Sering terdapat di Serebellum. Sering terjadi pada anak-anak terutama anak laki-laki dan puncak berada pada 3 – 5 tahun. Cenderung metastasis relatif tinggi
3)      Meningioma, berasal dari Meningen, bersifat jinak karena tumbuhnya sangat lambat dan otak mampu untuk menerima adanya meningioma, sering tumbuh sampai cukup besar baru memberikan gejala. Banyak terdapat pada wanita antara 30 – 50 tahun
4)      Schwannoma, tumor jinak berasal dari sel Schwan, yang menghasilkan myelin yang melindungi saraf akustikus untuk pendengaran. Banyak pada orang dewasa, dan ternyata 2 kali lipat lebih banyak pada wanita daripada laki-laki
5)      Craniopharingioma, tumor berasal dari kelenjar pituitary dekat hipotalamus, karena dapat menekan atau merusak hipotalamus dan dapat menyebabkan gangguan fungsi vital dan banyak terdapat pada anak-anak dan dewasa.
6)      Germ Cell Tumor, berasal dari sel primitif sel kelamin atau dari germ sel, sering disebut Germinoma
7)      Tumor Pineal, terjadi disekitar kelenjar pineal, yaitu suatu organ yang kecil di dekat pusat otak. Tumbuh lambat (Pineositoma), dapat tumbuh cepat (Pineoblastoma). Daerah pineal sulit dicapai dan sering tidak dapat diangkat

2.      Tumor otak sekunder
-       Tumor yang tumbuh ketika kanker menyebar dari tempat lain ke otak dan menyebabkan tumor otak
-       Tumor sekunder tidak sama dengan tumor otak primer, karena sel yang terdapat pada tumor otak sekunder mirip dengan sel asal tumor metastasis tersebut yang abnormal
-       Terapi tergantung pada asal tumor dan perluasan penyebaran tumor, umur, keadaan umum pasien, respon terhadap pengobatan sebelumnya

GEJALA
-       Gejala tergantung pada ukuran dan lokasi tumor di otak
-       Gejala disebabkan oleh kerusakan dari jaringan vital dan oleh penekanan pada otak karena tumor tumbuh pada ruang yang terbatas
-       Jika tumor tumbuh lambat, maka gejala yang timbul bertahap dalam waktu yang cukup lama
-       Gejala-gejala terdiri atas :
·         Sakit kepala
·         Hidrocephalus
·         Kejang
·         Nausea/vomiting
·         Lemas/kehilangan sensibilitas pada lengan dan tungkai
·         Ataxia
·         Pergerakan bola mata abnormal atau perubahan penglihatan
·         Perubahan personalitas
·         Gangguan memori
·         Gangguan bicara
·         Mengantuk

DIAGNOSA
Diagnosa ditegakkan berdasarkan anamnesa yang baik, pemeriksaan fisik, pemeriksaan neurologis yang lengkap

PEMERIKSAAN PENUNJANG
-       Foto tulang tengkorak, dapat memperlihatkan defisit kalsium yang ada dalam beberapa tipe tumor. Dapat memperlihatkan perubahan dalam tulang yang disebabkan oleh sel tumor
-       Lumbal pungsi
-       EEG
-       Mielografi
-       Angiografi atau arteriografi
-       CT-Brain (Computerized Tomography Scanning Brain)
-       MRI (Magnetic Resonance Imaging)
-       PET (Position Emission Tomography)

TERAPI
-       Tergantung pada banyak faktor, diantaranya : tipe, lokasi, ukuran tumor, umur pasien, keadaan umum pasien
-       Metode terapi pada anak-anak berbeda dengan dewasa dan disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap pasien
-       Metode-metode terapi yaitu :
·         Operasi – craniotomy
·         Radioterapi
·         Kemoterapi
-       Sebelum diterapi diberikan terlebih dahulu :
·         Steroid untuk menghilangkan edema otak
·         Antikonvulsan, untuk mencegah atau mengontrol kejang
·         P-V shunt, untuk hydrocephalus

OPERASI
-       Merupakan terapi yang paling sering dilakukan pada tumor otak
-       Untuk mengambil tumor otak, operasi ini disebut kraniotomi
-       Jika mungkin tumor diambil semua, tetapi bila tumor tidak dapat diangkat semua tanpa merusak jaringan otak vital, maka akan diangkat tumor sebanyak-banyaknya. Pengambilan sebagian tumor dapat menghilangkan gejala dengan mengurangi tekanan pada otak dan mengurangi ukuran tumor dan terapi dapat dilanjutkan dengan radioterapi atau kemoterapi
-       Pada tumor yang tidak dapat diangkat sama sekali, akan dilakukan biopsy untuk mengetahui tipe sel sehingga dapat membantu untuk memutuskan terapi yang akan dilakukan, biasanya dilakukan Needle biopsy dengan bantuan CT-Scan atau MRI untuk mengarahkan ke lokasi yang tepat. Operator membuat lubang kecil di tulang tengkorak dan menuntun jarum ke tumor, teknik ini disebut stereotaksis

RADIOTERAPI
-       Berfungsi untuk merusak sel kanker dan menghentikan pertumbuhannya
-       Biasanya digunakan untuk tumor yang tidak bisa diangkat dengan operasi atau membunuh sel kanker yang tersisa setelah operasi
-       Radioterapi terbagi atas dua, yaitu :
·         External radioterapi
Ø  Diberi selama 5 hari seminggu dalam beberapa minggu
Ø  Jadwal tergantung pada tipe, ukuran dan umur pasien
Ø  Pemberian dosis total selama radiasi untuk melindungi jaringan yang sehat dalam area tumor
Ø  Diberikan pada daerah tumor atau pada seluruh otak dengan diberikan dosis extra pada daerah tumor.
·         Implant radioterapi
Ø  Yaitu dengan radioaktif yang diletakkan langsung pada lokasi tumor
Ø  Tergantung pada bahan radioaktif yang digunakan, dan implant tersebut dapat tinggalkan untuk sementara atau dalam jangka panjang
Ø  Implant tersebut akan kehilangan sedikit zat radioaktif setiap harinya


STEREOTAKTIK RADIOSURGEY ATAU GAMMA KNIFE
Adalah terapi yang diberikan dalam satu sesi dengan energi yang besar dengan tujuan pada daerah tumor yang dituju diberikan sinar dari berbagai sudut sehingga dosis yang tinggi dari radiasi dapat mencapai tumor tanpa merusak jaringan otak yang sehat.

KEMOTERAPI
-       Adalah terapi dengan menggunakan obat untuk membunuh sel kanker
-       Dapat diberikan single ataupun kombinasi dengan cara pemberian dapat melalui mulut, intravena, intramuskular, intratekal

BIOLOGICAL TERAPI
Merupakan cara baru untuk mengobati tumor otak dan masih dalam penelitian. Cara ini menggunakan prinsip meningkatkan system imun tubuh untuk melawan penyakit

REHABILITASI
-       Merupakan bagian yang sangat penting pada bagian terapi
-       Tergantung pada kebutuhan pasien dan bagaimana tumor mempengaruhi aktivitas kerja
-       Occupational terapi, untuk mengatasi kesulitan dalam aktivitas untuk kehidupan sehari-hari seperti makan, mandi, berpakaian dan pergi ke toilet
-       Physical terapi terutama pada lengan yang lemah atau paralyse dan pada gangguan keseimbangan
-       Speech terapi terutama pada pasien dengan gangguan bicara.


EFEK SAMPING TERAPI
-       Efek samping yang timbul karena pengobatan untuk menghancurkan tumor juga merusak sel yang sehat
-       Efek samping tergantung pada jenis terapi yang digunakan
-       Efek samping kraniotomi:
Merusak sel otak yang normal, udem otak, lemah, gangguan fungsi koordinasi, perubahan personaliti, gangguan bahasa dan gangguan memori, kejang, gejala kanan bertambah berat dari sebelumnya, tetapi akan hilang atau berkurang dengan berjalannya waktu.
-       Efek samping radioterapi :
Nausea, rambut rontok, reaksi kulit pada daerah terapi, sakit kepala, gangguan memori, kejang
-       Efek samping kemoterapi:
Antikanker mempengaruhi pertumbuhan sel secara cepat sehingga pasien mudah terserang infeksi, nafsu makan berkurang, vomitus, sakit tenggorokan, rambut rontok, infertilitas, menopause dini, kerusakan ginjal, tinitus, gangguan pendengaran

PROGNOSA
Prognosa sering ditentukan oleh kecepatan dan ketepatan diagnosa. Juga tergantung pada diagnosa, tipe, derajat tumor, lokasi tumor, metastasis atau tidak, umur pasien, keadaan umum pasien, seberapa banyak tumor mempengaruhi aktivitas pasien.


DAFTAR PUSTAKA

1.      Sylvia A Price dan Lorraine M Wilson, Buku Patofisiologi edisi ke IV,1995, EGC, Jakarta.
2.      Youmans,Neurological Surgery,edisi IV,1996, by sounders company
3.      Raymond D Adamx and Mourice Victor. Allan H Rapper, Principle of Neurologi,1997,by sounders company
4.      Bailey and love’s, Short Practice of Surgery 21 st edition,1992, Chapman and Hall Medical
5.      kegawatdaruratan saraf dan bedah, PT Delta Citra Grafinda, 2002,FK uph lippo karawaci